CERITA TANAMAN KAKAO - Blog Pak Yogi

CERITA TANAMAN KAKAO

http://www.munawirsuprayogi.com/2018/02/siapa-yang-menanam-mereka-yang-menuai.html

Disebuah negeri di timur jauh sana hiduplah pasangan seorang Petani Tua dengan ketiga cucu-cucunya yang gagah perkasa. Ketiga cucunya diberi bekal dengan sepetak tanah dan diberi pengetahuan bertani. Ketiga cucu-cucunya masing-masing mempunyai karakter dan sifat yang berbeda-beda namun ketiganya mempunyai kecerdasan yang sama.


Cucu pertama bernama Abda dengan sifat yang patuh dan lemah lembut. Cucu kedua bernama Abdi dengan sifat yang patuh namun sedikit sombong. Cucu ketiga bernama Abdu dengan sifat yang kurang patuh dan sombong.
Suatu hari ketiganya diberi kabar supaya nanti malam setelah sholat maghrib berkumpul diruang tamu untuk diberi suatu kabar.
"Nanti malam Kakek harap kalian bertiga setelah sholat maghrib jangan kemana-mana, Kakek mau memberi kabar dengan kedatangan bos dari kota tadi pagi". "Baik kek" jawab ketiga cucunya dengan serentak.


Tibalah suatu malam, Sang kakek duduk dengan segelas kopi dan singkong disebelahnya.
"Eh kamu da, sini da. Mana adik-adikmu Abdi dan Abdu?" Tanya kakek kepada Abda.
"Mereka berdua sholat berjama'ah di masjid kek" Jawab Abda.
"Lah kamu?" Tanya Kakek.
"Saya sholat di kamar kek, soalnya saya takut Kakek menunggu begitu lama. Karena tadi Kakek telah berpesan supaya setelah sholat maghrib untuk berkumpul" Jawab Abda dengan lemah lembut. "Yaudah sini duduk. Kita tunggu dulu kedua adikmu". Mereka berduapun bercengkrama sembari menunggu kedatangan Abdi dan Abdu.


"Assalamu'alaikum" ternyata Abdi sudah datang dari Masjid.
"Walaikum sallam warohmatullahi wa barokatuh" jawab Sang Kakek dan Abda.
"Si Abdu mana?" Tanya Abda kepada Abdi.
"G' tau tu si Abdu kemana. Heeehc, uda hampir isyak gini belum pulang juga. Uda tau disuruh kumpul setelah magrib" Jawab Abdi dengan nada kesal.
"Bukankah tadi berangkat bersama-sama dengan kamu di?" Lanjut tanya Abda kepada Abdu.
"Iya, tadi berangkatnya sama-sama dengan saya" jawab Abdi.
"Yaudah sini diminum dulu kopinya" kata Kakek memanggil Abdi dengan senyum yang khas.

Mereka bertigapun menikmati kopi dan singkong dengan akrabnya sembari menunggu Abdu. Tanpa terasapun terdengar adzan isyak.
"Allahu Akbar Allahu Akbar" suara isyak di Masjid.
"Kita sholat berjama'ah isyak di rumah saja sambil menunggu Si Abdu" kata Kakek. Merekapun sholat berjamaah dirumah.
"Assalamu'alaikum"
"Walaikum salam" sahut bersama Sang Kakek beserta kedua cucunya.
"Wah,, silakan sini du" kata Kakek.
"Darimana saja kamu du?" Kata Abdi bertanya sama Adiknya Abdu.
"Kakak g' ngelihat. Saya dari masjid" jawab Abdu.
"Tadi siang Kakek berpesan setelah sholat maghrib kita disuruh berkumpul" ujar Abdi kepada Abdu.
"Setelah sholat maghrib kan sholat isyak kak. Jadi saya datangnya ya setelah sholat isyak kumpulnya" sahut Abdu.
"Sudah, sini duduk dimakan singkongnya. Keburu dingin nanti" Sang Kakek mencoba menenangkan. Dan si Abdu pun duduk bersama-sama.

Sang Kakek yang begitu bijaksana dan berwibawa selanjutnya menjelasakan kepada ketiga cucu-cucunya tentang maksud kedatangan bos dari kota ke rumahnya tadi pagi.
Singkat cerita Kakek memerintahkan kepada ketiga cucunya untuk menanam pohon kakao yang nantinya akan dibeli bos coklat dari kota. "Baik Kek saya akan istirahat dulu supaya besok bisa bangun lebih pagi untuk mencari bibit pohon kakao" Ijin Abda kepada Sang Kakek. Menyusul kedua adik Abdi dan Abdu.

Pagi pun tiba,  bergegaslah mereka bertiga mencari bibit. Abda mencari bibit pohon kakao unggulan di toko pertanian. Abdi mencari bibit biji kakao di desa tetangga dengan meminta sama masyarakat yang sudah menanam pohon kakao. Sedangkan Abdu masih berbaring tidur.

Tibalah dimana mereka bertiga mengolah tanah. Si Abda mengolah tanahnya dengan penuh ketelatenan sesuai apa yang di ajarkan Sang Kakek. Begitu juga Si Abdi. Sedangkan Si Abdu mengolah tanahnya dengan kemauannya sendiri dan asal-asalan. Si Abda merawat pohon kakaonya dengan baik, memagarnya, menyemprotnya dan penuh keprihatinan. Sedangkan Si Abdi dan Si Abdu merawatnya dengan sedikit perawatan tidak dipupuk dan tidak dipagar.

"Da, rajin betul kamu merawat kakao?. Kalah-kalah merawat bayi" Tanya Si Abdi kepada Abda.
"Kata Kakek memang harus baik seperti ini cara merawat pohon kakao di" jawab Abda.
"Ah, g' perlu sebaik itu da. Lagian kita g' pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa akan datang" sahut Si Abdu.
"Iya, benar apa yang dikatakan Si Abdu. Jangan terlalu lelah dalam bekerja. Belum tentu hasilnya sesuai apa yang kita harapkan". Sahut Si Abdi.
"Saya cuma menuruti apa yang Kakek ajarkan sama saya" jawab Si Abda.

5 Tahun berselang mereka merawat pohon kakaonya dengan cara mereka masing-masing. Si Abdi dengan penuh ketelatenannya dan menuruti apa yang Sang Kakek ajarkan. Si Abdi dengan pengalaman dari buku dan orang-orang sekitar dan Si Abdu dengan apa yang dia kehendaki sendiri.

Tibalah waktu panen setelah 5 waktu berselang. Sang Kakek menyambangi hasil tanaman kakao cucu-cucunya tanpa sepengetahuan siapapun.

Keesokan harinya Sang Kakek mengumpulkan cucu-cucunya seperti bisasa dengan segelas kopi dan rebusan singkong.
"Maksud Kakek mengumpulkan kalian bertiga disini setelah 5 tahun berselang, yaitu untuk menanyakan hasil dari tanaman kakao kalian" Kakek.
"Hasilnya tanaman kakao saya bagus kek". Jawab Abdi.
"Hem,, tanaman saya lebih bagus dari Abdi kek" sahut Abdu.
Si Abda masih diam belum mau menjawab. Karena, Si Abda masih ragu dengan hasil panen buah kakao yang dia tanam selama ini. "Mudah-mudahan besok bos yang mau membeli buah kakao kita tidak kecewa" kata Si Abda dengan nada yang lembut dan menundukkan kepala.
Pagipun tiba. "Assalamu'alaikum".
"Walalikum salam" sahut Kakek.
"Silakan masuk bos.." lanjut Si Kakek.
"Saya mau mengambil buah kakaonya Kek" Si Bos.
"Oh,, mari kita langsung ke kebunnya saja bos" sahut si Kakek dengan penuh gembira.

Berangkatlah mereka berdua ke kebun dengan beserta anak buah bos coklat dari kota.
Setelah tiba di kebun mereka beserta rombongan menemuin Si Abdu.
"Nak, ini bos membeli buah kakaonya" Kakek.
"Silakan..silakan langsung saja di timbang bos" sahut Abdu sambil tersenyum ke bos.
"Ya" kata Bos.
"Sekalian itu disebelah dipanen juga punyanya Si Abda dan Si Abdi" kata Kakek.
"Ya kek" sahut bos. Dan merekapun bos dan anak buahnya mengambil dan memanen satu-persatu hasil buah kakao kebun ketiga cucu Sang Kakek.
"Saya rasa sudah cukup kek" lapor Si Bos kepada Kakek.
"Saya panggil dulu cucu-cucu saya" jawab Si Kakek.
"Abda,, Abdi,, Abdu" teriakan Si Kakek memanggil cucu-cucunya.
"Ya Kek" sahut Si Abda.
"Sini dulu. Ini Si Bos mau membayar uang buah kakaonya nak" lanjut Si Kakek. Dan berkumpullah mereka bertiga dedapan bos dengan penuh kegembiraan dan hati yang berbunga-bunga karena akan menerima uang.
"Ini uangnya Si Abda 25 juta Rupiah. Uangnya Si Abdi 10 juta Rupiah dan uangnya Si Abdu 5 juta rupiah" Bos.
"Loh.. kok beda?.. padahal luas tanah kami sama, jumlah bibit pohon yang kami tanampun jumlahnya sama banyak. Kenapa uang hasil panen yang kita terima berbeda?" Sahut Si Abdu.
"Setelah anak buah saya memanen dari ketiga kebun kakao bapak-bapak sekalian. Hasilnya berbeda-beda. Pak Abda dapat 25 ton, Pak Abdi dapat 10 ton dan Pak Abdu dapat 5 ton. Jadi jumlah uang yang diterimapun berbeda-beda" kata Bos.
"Tolong ini diterima uangnya" lanjut Si Bos.
"Sudah, untuk selanjutnya kakek harap kalian bertiga harus lebih gigih dan telaten untuk merawat pohon kakao kalian masing-masing. Supaya hasilnya lebih memuaskan" Kakek.
"Tiga bulan lagi Si Bos datang kesini lagi untuk membeli buah yang berikutnya" lanjut Kakek.
"Abdi dan Abdu kalian berdua harus belajar dengan kakak kalian Si Abda. Abda ajarkan mereka berdua bagaimana cara merawat pohon kakao supaya hasil panennya bagus" Kakek.
"Baik Kek" jawab Si Abda.

Keesokan harinya mereka bertiga beraktifitas dikebun kakao dengan akrabnya. Si Abda memberikan kiat dan ilmu berkebun dengan baik kepada kedua adiknya (Si Abdi dan Si Abdu).
Begitu juga Si Abdi dan Si Abdu sangat antusias mendengarkan arahan berkebun dari Si Abda.
DMCA.com Protection Status

Posting Komentar

0 Komentar