Metode Pembelajaran K-13 Revisi Tahun 2018 - Blog Pak Yogi

Metode Pembelajaran K-13 Revisi Tahun 2018

https://www.munawirsuprayogi.com/2018/05/metode-pembelajaran.html
Gambar diambil di Kab. Paser

Proses pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah (untuk pelaksanaan Kurikulum 2013) diatur melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 103 Tahun 2014 yang dipayungi dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses beserta lampirannya. Dalam lampiran Peraturan Menteri tersebut dinyatakan tentang konsep dasar mengenai proses pembelajaran yaitu : Bahwa peserta didik dipandang sebagai subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Sejalan dengan pandangan tersebut, pembelajaran harus berkenaan dengan kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan dalam proses kognitifnya. Selanjutnya, agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, peserta didik perlu didorong untuk bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, dan berupaya keras mewujudkan ide-idenya.

Selanjutnya, perlu diketahui bahwasannya Penulis hanya mengambil bahan artikel dari "Modul Pelatihan K-13 di Kab. Paser". Tidak ada pembahasan lebih lanjut dan memperluas pembahasan. Penulis hanya merangkum dan mengambil yang dianggap penting. Tujuannya jika dikemudian hari Modul yang berupa file hilang atau rusak, jadi penulis punya alternatif yaitu dengan membuka blog pribadi ini saja.Monggo dilanjut.....

Atas konsep dasar tersebut dirumuskan sejumlah prinsip pembelajaran sebagai berikut:
  • Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu
  • Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar
  • Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah
  • Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi
  • Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu
  • Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi
  • Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif
  • Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);
  • Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat
  • Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani)
  • Pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di masyarakat
  • Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik, dan di mana saja adalah kelas
  • Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran
Sejalan dengan konsep dasar dan prinsip-prinsip pembelajaran tersebut, pembelajaran pada Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik atau pendekatan berbasis proses keilmuan. Dalam Permendikbud No.22 tahun 2016 disebutkan bahwa untuk memperkuat pendekatan saaintifik tersebut, perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Di samping pendekatan saintifik, dapat diterapkan model-model pembelajaran lainnya, antara lain discovery learning, project-based learning, problem-based learning, inquiry learning.

Berikut Penjelasannya ;


A) Pendekatan Saintifik

Dalam Pembelajaran Mata Pelajaran PJOK : Dalam Permendikbud No. 103 Tahun 2014 dinyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan saintifik terdiri atas lima langkah kegiatan belajar yakni mengamati (observing), menanya (questioning), mengumpulkan informasi/mencoba (experimenting), menalar atau mengasosiasi (associating), mengomunikasikan (communicating) yang dapat dilanjutkan dengan mencipta. Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan saintifik tersebut mengikuti langkah-langkah dalam metode ilmiah.

Berikut langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan saintifik.

1. Mengamati.

Peserta didik menggunakan panca inderanya untuk mengamati fenomena yang relevan dengan apa yang dipelajari. Fenomena yang diamati pada mata pelajaran satu dan lainnya berbeda. Misalnya, untuk mata pelajaran PJOK, peserta didik mengamati pelangi, untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, peserta didik mendengarkan percakapan, untuk mata pelajaran bahasa Indonesia peserta didik membaca teks, untuk prakarya peserta didik mencicipi iga bakar, dan untuk mata pelajaran IPS peserta didik mengamati banjir. Siswa dapat mengamati fenomena secara langsung maupun melalui media audio visual. Hasil yang diharapkan dari langkah pembelajaran ini adalah peserta didik menemukan masalah, yaitu gap of knowledge – apapun yang belum diketahui atau belum dapat lakukan terkait dengan fenomena yang diamati. Pada langkah ini guru dapat membantu peserta didik menginventarisasi segala sesuatu yang belum diketahui (gap of knowledge) tersebut. Agar kegiatan mengamati dapat berlangsung dengan baik, sebelum pembelajaran dimulai guru perlu menemukan/mempersiapkan fenomena yang diamati peserta didik dan merancang kegiatan pengamatan untuk peserta didik menemukan masalah.


2. Menanya.

Peserta didik merumuskan pertanyaan tentang apa saja yang tidak diketahui atau belum dapat lakukan terkait dengan fenomena yang diamati. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat mencakup pertanyaan-pertanyaan yang menghendaki jawaban berupa pengetahuan faktual, konseptual, maupun prosedural, sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik. Hasil kegiatan ini adalah serangkaian pertanyaan peserta didik yang relevan dengan indikator-indikator KD. Guru Membantu peserta didik merumuskan pertanyaan berdasarkan daftar hal-hal yang perlu/ingin diketahui agar dapat melakukan/menciptakan sesuatu.

3. Mengumpulkan informasi/mencoba.

Peserta didik mengumpulkan data melalui berbagai teknik, misalnya melakukan eksperimen, mengamati obyek/kejadian/aktivitas, wawancara dengan nara sumber, membaca buku pelajaran, dan sumber lain di antaranya buku referensi, kamus, ensiklopedia, media massa, atau serangkaian data statistik. Guru menyediakan sumber-sumber belajar, lembar kerja (worksheet), media, alat peraga/peralatan eksperimen, dan sebagainya. Guru juga membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk mengisi lembar kerja, menggali informasi tambahan yang dapat dilakukan secara berulang-ulang sampai peserta didik memperoleh informasi atau data yang dibutuhkan. Hasil kegiatan ini adalah serangkaian data atau informasi yang relevan dengan pertanyaan-pertanyaan yang peserta didik rumuskan.


4. Menalar/mengasosiasi.

Peserta didik menggunakan data atau informasi yang sudah dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka rumuskan. Pada langkah ini guru mengarahkan agar peserta didik dapat menghubung-hubungkan data/informasi yang diperoleh untuk menarik kesimpulan. Hasil akhir dari tahap ini adalah simpulan-simpulan yang merupakan jawaban atas pertanyaan yang dirumuskan pada langkah menanya.


5. Mengomunikasikan.

Peserta didik menyampaikan jawaban terhadap pertanyaanpertanyaan mereka ke kelas secara lisan dan/atau tertulis atau melalui media lain. Pada tahapan pembelajaran ini peserta didik dapat juga memajang/memamerkan hasilnya di ruang kelas, atau mengunggah (upload) di blog yang dimiliki. Guru memberikan umpan balik, meluruskan, memberikan penguatan, serta memberikan penjelasan/informasi lebih luas. Guru membantu peserta didik untuk menentukan butir-butir penting dan simpulan yang akan dipresentasikan, baik dengan atau tanpa memanfaatkan teknologi informasi.

B) Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-based Learning)

Pembelajaran Berbasis Masalah adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari (otentik) yang bersifat terbuka (open-ended) untuk diselesaikan oleh peserta didik untuk mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan sosial, keterampilan untuk belajar mandiri, dan membangun atau memperoleh pengetahuan baru. Pembelajaran ini berbeda dengan pembelajaran konvensional yang jarang menggunakan masalah nyata atau menggunakan masalah nyata hanya di tahap akhir pembelajaran sebagai penerapan dari pengetahuan yang telah dipelajari. Pemilihan masalah nyata tersebut dilakukan ataspertimbangan kesesuaiannya dengan pencapaian kompetensi dasar. 


Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Masalah

Langkah 1 Klarifikasi Permasalahan

Guru menyajikan fenomena yang mengandung masalah yang sesuai dengan kompetensi dasar atau indikator. Bentuknya bisa berupa gambar, teks, video, vignettes, fenomena riil, dan sebagainya. Peserta didik melakukan identifikasi terhadap fenomena yang ditampilkan guru untuk menmukan masalah dari fenomena yang ditampilkan. Peserta didik melakukan klarifikasi terhadap masalah yang ditemukan.

Langkah 2 Brainstorming

Peserta didik mengidentifikasi masalah dan melakukan brainstorming dengan fasilitasi guru. Guru memfasilitasi Peserta didik untuk mengklarifikasi fakta, konsep, prosedur dan kaidah dari masalah yang ditemukan. Peserta didik melakukan brainstorming dengan cara sharing information, klarifikasi informasi dan data tentang masalah yang ada, melakukan peer learning dan bekerjasama (working together). Peserta didik mendapatkan deskripsi dari masalah, apa saja yang perlu dipelajari untuk menyelesaikan masalah, deskripsi konsep yang sudah dan belum diketahui, menemukan penyebab masalah, dan menyusun rencana untuk menyelesaikan masalah. Peserta didik mengembangkan alternatif penyelesaian masalah. Peserta didik menyusun dan mengembangkan action plan untuk penyelesaian masalah.

Langkah 3 Pengumpulan Informasi dan Data

Peserta didik melakukan kegiatan pengumpulan data dan informasi terkait dengan penyelesaian masalah, perpustakaan, web, dan berbagai sumber data yang lain serta melakukan observasi. Peserta didik secara mandiri mengolah hasil pengumpulan informasi/data untuk dipergunakan sebagai solusi dalam menyelesaikan masalah.

Langkah 4 Berbagi Informasi dan Berdiskusi untuk Menemukan Solusi Penyelesaian Masalah

Peserta didik kembali melakukan brainstorming, klarifikasi informasi, konsep dan data terkait dengan permasalahan yang ada dan menemukan solusinya, melakukan peer learning dan bekerjasama (working together). Peserta didik merumuskan dan menetapkan solusi (pemecahan masalah). Peserta didik menyusun laporan hasil diskusi penyelesaian masalah.
  

Langkah 5 Presentasi Hasil Penyelesaian Masalah

Peserta didik mempresentasikan hasil brainstormingnya tentang solusi yang dikemukakan untuk penyelesaian masalah. Peserta didik mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas. Peserta didik mereviu, menganalisis, mengevaluasi dan refleksi terhadap pemecahan masalah yang ditawarkan beserta reasoningnya dalam diskusi kelas. Peserta didik melakukan perbaikan berdasarkan hasil diskusi

Langkah 6 Refleksi

Peserta didik mengemukakan ulasan terhadap pembelajaran yang dilakukan. Guru dan Peserta didik memberikan apresiasi atas partisipasi semua pihak. Guru dan Peserta didik melakukan merefleksi atas kontribusi setiap orang dalam proses pembelajaran. Guru dan Peserta didik merayakan.

C) Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)

Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP) adalah kegiatan pembelajaran yang menggunakan projek/kegiatan sebagai proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Penekanan pembelajaran terletak pada aktivitas-aktivias peserta didik untuk menghasilkan produk dengan menerapkan keterampilan meneliti, menganalisis, membuat, sampai dengan mempresentasikan produk pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata. Produk yang dimaksud adalah hasil projek dalam bentuk desain, skema, karya tulis, karya seni, karya teknologi/prakarya, dan lain-lain. Pendekatan ini memperkenankan pesera didik untuk bekerja secara mandiri maupun berkelompok dalam menghasilkan produk nyata.


Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Projek

1. Penentuan projek

Guru bersama dengan peserta didik menentukan tema/topik projek


2. Perancangan langkah-langkah penyelesaian projek

Guru memfasilitasi Peserta didik untuk merancang langkah-langkah kegiatan penyelesaian projek beserta pengelolaannya


3. Penyusunan jadwal pelaksanaan projek

Guru memberikan pendampingan kepada peserta didik melakukan penjadwalan semua kegiatan yang telah dirancangnya


4. Penyelesaian projek dengan fasilitasi dan monitoring guru

Guru memfasilitasi dan memonitor peserta didik dalam melaksanakan rancangan projek yang telah dibuat


5. Penyusunan laporan dan presentasi/publikasi hasil projek

Guru memfasilitasi Peserta didik untuk mempresentasikan dan mempublikasikan hasil karya


6. Evaluasi proses dan hasil projek

Guru dan peserta didik pada akhir proses pembelajaran melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil tugas projek

D) Pembelajaran Inquiry/Discovery

Dalam Permendikbud No.22 tahun 2016 dikatakan pembelajaran inquiry disebut bersama dengan discovery. Dalam Webster’s Collegiate Dictionary inquiry didefinisikan sebagai “bertanya tentang” atau “mencari informasi”. Discovery disebut sebagai “tindakan menemukan”. Jadi, pembelajaran ini memiliki dua proses utama. Pertama, melibatkan Peserta didik dalam mengajukan atau merumuskan pertanyaan-pertanyaan (to inquire), dan kedua, Peserta didik menyingkap, menemukan (to discover) jawaban atas pertanyaan mereka melalui serangkaian kegiatan penyelidikan dan kegiatan-kegiatan sejenis (Sutman, et.al., 2008:x). Inquiry/discovery merupakan proses pembelajaran yang didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuaan bukan sekedar sekumpulan fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan atau mengkonstruksi. Dengan kata lain, pembelajaran merupakan proses fasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) agar peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuannya sendiri (discovery).
Tujuan pertama Inquiry/Discovery Learning adalah agar Peserta didik mampu merumuskan dan menjawab pertanyaan apa, siapa, kapan, di mana,bagaimana, mengapa, dsb. Dengan kata lain, Inquiry/Discovery Learning bertujuan untuk membantu Peserta didik berpikir secara analitis. Tujuan kedua adalah untuk mendorong Peserta didik agar semakin berani dan kreatif berimajinasi. Dengan imajinasi Peserta didik dibimbing untuk mengkreasi sesuatu menggunakan pengetahuan yang diperolehnya. Penemuan ini dapat berupa perbaikan atau penyempurnaan dari apa yang telah ada, maupun menciptakan ide, gagasan, atau alat yang belum ada (Anam, 2015:9). Proses mengumpulkan data, mengamati, dan meringkas informasi, khususnya data numerik dalam Inquiry/Discovery Learning, efektif dalam merangsang diskusi untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis yang diinginkan. Peserta didik perlu mengalami bagaimana menarik simpulan ilmiah berdasarkan pengamatan atas fakta-fakta dan sekumpulan data yang diperoleh.

Lima langkah dalam Inquiry/Discovery Learning

Pada dasarnya sintaks Inquiry/Discovery Learning meliputi lima langkah (Sutman, et.al.2008:52).
  1. Merumuskan pertanyaan, masalah, atau topik yang akan diselidiki.
  2. Merencanakan Merencanakan prosedur atau langkah-langkah pengumpulan dan analisis data.
  3. Mengumpulkan dan menganalisis data Kegiatan mengumpulkan informasi, fakta, maupun data, dilanjutkan dengan kegiatan menganalisisnya.
  4. Menarik simpulan Menarik simpulan-simpulan (jawaban atau penjelasan ringkas)
  5. Aplikasi dan Tindak lanjut Menerapkan hasil dan mengeksplorasi pertanyaan pertanyaan atau permasalahan lanjutan untuk dicari jawabnya.
Menurut Sutman, 5 langkah di atas merupakan langkah umum, yang bisa dibedakan menjadi 5 level yang mencerminkan kadar atau derajat aktivitas Peserta didik. Sutman mulai dengan level 0 yang mencerminkan derajad keterlibatan Peserta didik yang rendah karena 5 langkah di atas sepenuhnya dilakukan dan dikontrol oleh guru, bukan peserta didik. Berturut-turut, pada level 1 guru menyerahkan langkah pertama kepada peserta didik sampai dengan level 5, ketika kelima langkah di atas sepenuhnya dilakukan oleh peserta didik di bawah bimbingan guru (Sutman, et.al., 2008:39-52).

Sumber-sumber Bahan dan Bahan Bacaan
  • Anam, Kh.,2015, Pembelajaran Berbasis Inkuiri Metode dan Aplikasi, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
  • Arend R., 2012, Learning to Teach, Ninth Edition, McGraw-Hill, New York.
  • Permendikbud No. 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah.
  • Permendikbud No. 53 Tahun 2015 Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan pada
  • Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
  • Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.
  • Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah Melalui Ujian Nasional dan Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan
  • Pendidikan Melalui Ujian Sekolah/Madrasah/Pendidikan Kesetaraan pada SMP/MTs atau yang Sederajat dan SMA/MA/SMK atau yang Sederajat.
  • Panduan Penilaian Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.
  • Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah.
  • Silabus Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah.
  • Buku Teks Pelajaran Kurikulum 2013 yang terdiri atas Buku Peserta didik dan Buku Guru untuk masing-masing mata pelajaran.
  • Panduan Penguatan Proses Pembelajaran Sekolah Menengah Pertama, 2014
  • Sutman Frank X.,Schmuckler, Woodfield J.D.,2008, The Science Quest Using Inquiry/Discovery to Enhance Student Learning, Grades 7-12, Jossey-Bass, San Fransisco
  • Modul Pelatihan K-13 2018-2019 (Kab. Paser).
DMCA.com Protection Status

Posting Komentar

0 Komentar