Sejarah Perjuangan Pangeran Antasari - Blog Pak Yogi

Sejarah Perjuangan Pangeran Antasari

Pangeran antasari yang mempunyai nama kecil Gusti Inu Karatapati lahir di Kayu Tangi, Martapura (Kalimantan Selatan) tahun 1797 M. Pengeran Mas’ud bin Pangeran Amir adalah nama ayah Pangeran Antasari dan Gusti Khadijah binti Sultan Sulaiman adalah nama Ibunya.

👶 Kehidupan Pangeran Antasari semasa kecil

Meski beliau lahir sebagai bangsawan namun Pangeran Antasari sudah terbiasa hidup sederhana semenjak kecil. Kampung Antasan Senor Martapura adalah tempat tinggal beliau. Hanya tanah lungguh di daerah Mangkauk sampai daerah dekat Rantau yang ia miliki. 400 Golden pertahun penghasilan yang ia dapatkan, pada masa Pemerintahan Hindia Belanda angka tersebut termasuk angka yang kecil dan tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

https://www.munawirsuprayogi.com/2018/06/sejarah-perjuangan-pangeran-antasari.html

👶 Wilayah kekuasaan

Wilayah kekuasaan Kesultanan Banjar pada saat dipimpin oleh Pangeran Antasari selain seluruh wilayah Kalimantan Selatan juga meliputi ; Pamukan, Paser, Kutai, Berau, Karasikan (Kalimantan Timur). Sebangau, Mandawai, Sampit, Kota Waringin, Kuala Pambuang, Muara Teweh, Kapuas, Puruk Cahu (Kalimantan Tengah). Sambas, Sukadana, Lawai (Kalimantan Barat).

Berdasarkan wilayah kekuasaan diatas maka Pangeran Antasari juga sebagai pemimpin suku di wilayah Kalimantan yaitu ; Suku banjar, ngaju, maanyan, siang, sihong, paser, kutai, murung, bakumpai, dan beberapa suku yang berada di pedalaman sepanjang sungai Barito.

👶 Masa perjuangan

Pada 25 April 1859, Pangeran Antasari bersama 300 prajuritnya menyerang pertambangan batu bara milik Belanda yang beraada di Pengaron. Perang Banjar pun pecah dan peperangan demi peperangan terus terjadi di seluruh wilayah Kerajaan Banjar. Pangeran Antasari yang dibantu para panglima dan pengikut setianya menyerang kem-kem milik Belanda yang ada di Martapura, Riam Kanan, Hulu Sungai, Tabalong, Tanah Laut, dan sepanjang sungai Barito hingga Puruk Cahu.

Pangeran antasari sempat memindahkan benteng pertahanannya di Muara Teweh karena terdesak dalam peperangan yang sangat sengit melawan belanda serta berlangsung secara berkepanjangan. Karena pada saat itu belanda dibantu oleh pasukan Batavia yang dipersenjatai dengan canggih.

Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing” (Haram Menyerah Baja Sampai Keujung). Maksudnya, dalam mengusir penjajah Belanda tidak pernah meminta ampun atau menyerah, perjuangan akan diteruskan sampai tenaga penghabisan.
Dengan terdesaknya Pangeran Antasari, belanda menyusun siasat baru dengan menghadiahi 10.000 golden bagi siapa saja yang mampu menangkap Pangeran Antasari sekaligus membunuhnya. Namun tawaran tersebut tidak dihiraukan oleh siapapun.

20 juli 1861 Pangeran Antasari mengirimkan surat balasan secara resmi kepada Pemerintahan Hindia Belanda, bahwasannya beliau menolak tawaran belanda untuk menyerah. “……Dengan tegas kami terangkan kepada tuan. Kami tidak setuju terhadap usul minta ampun dan kami berjuang terus menuntut hak pusaka (kemerdekaan)…..”.

14 Maret tahun 1862, dihadapan kepala suku dayak dan Adipati penguasa wilayah dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapat (Tumenggung Yang Pati Jaya Raja) Pangeran Antasari ditunjuk sebagai pepimpin tertinggi Kesultanan Banjar/menjadi Sultan Banjar dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Penguatan posisi tersebut dimulai dengan seruan “Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah!”.

👶 Gugur

Pangeran Antasari gugur di medan peperangan yaitu di tengah-tengah pasukannya sewaktu perang melawan belanda yaitu tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan, Begok Sampirang, Murung Raya (pada usia 75 tahun).

Pangeran Antasari meninggal akibat penyakit paru-paru dan juga cacar yang dideritanya setelah perang dibawah kaki Bukit Begantung, Tundukan. Sepeninggalnya Pangeran Antasari perjuangan di teruskan oleh puteranya yang bernama Muhammad Seman.

11 Nopember tahun 1958 rakyat Banjar beserta keluarga memindahkan makam Pangeran Antasari ke Taman Makam Perang Banjar yang ada di Kelurahan Surgi Mufti – Banjarmasin, setelah kurang lebih 91 tahun terkubur di daerah Hulu Sungai Barito. Bagian tubuh Pangeran Antasari yang masih utuh adalah tulang tengkorak, tempurung lutut dan beberapa helai rambut.

👶 Penghargaan yang diberikan kepada Pangeran Antasari

  1. 23 Maret 1968, berdasarkan SK No. 06/TK/1968 oleh Pemerintah Republik Indonesia Pangeran Antasari diberi gelar “Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan”.
  2. Untuk mengenang jasa beliau namanya di abadikan pada Korem 101/Antasari.
  3. Nama beliau juga dipakai sebagai nama julukan Kalimantan Selatan yaitu Bumi Antasari.
  4. Pangeran Antasari diabadikan pada gambar uang pecahan 2000 rupiah.

Kesimpulan

  • Meskipun bergelar sebagai bangsawan Pangeran Antasari dan keluarganya menjalani kehidupan sehari-hari secara sederhana
  • Kegigihan Pangeran Antasari dalam membela rakyat dan melawan penjajah
  • Atas perjuangan Pangeran Antasari merebut kemerdekaan sehingga beliau mendapatkan banyak penghargaan.
DMCA.com Protection Status

Posting Komentar

0 Komentar