Kisah dan Perjuangan K.H. Abdul Wahab Hasbullah - Blog Pak Yogi

Kisah dan Perjuangan K.H. Abdul Wahab Hasbullah

http://www.munawirsuprayogi.com/2018/08/kisah-dan-perjuangan-kh-abdul-wahab.html

Silsilah Keturunan : K.H. Abdul Wahab Hasbullah berasal dari keturunan Raja Brawijaya IV dan bertemu dengan silsilah K.H. Hasyim Asy’ari pada datuk yang bernama Kiai Soichah.

Kelahiran dan Masa Kanak-Kanak : K.H. Abdul Wahab Hasbullah lahir dari pasangan Kiai Hasbullah dan Nyai Latifah, pada Maret 1888 di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. K.H. AbdulWahab Hasbullah kecil banyak menghabiskan waktunya untuk bermain dan bersenang-senang layaknya anak-anak kecil di masa itu. Semenjak kanak-kanak K.H. Abdul Wahab Hasbullah dikenal sebagai pemimpin dalam segala permainan.

Pendidikan : Masa pendidikan K.H. Abdul Wahab Hasbullah dari kecil hingga besar banyak dihabiskan di pondok pesantren. Selama kurang lebih 20 tahun, ia secara intensif menggali pengetahuan keagamaan dari beberapa pesantren. Karena tumbuh dilingkungan pondok pesantren, mulai sejak dini ia diajarkan ilmu agama dan moral pada tingkat dasar. Termasuk dalam hal ini tentu diajarkan seni Islam seperti kaligrafi, hadrah, barjanji, diba’, dan sholawat.

Kemudian K.H. Abdul Wahab Hasbullah tak lupa diajarkan tradisi yang menghormati leluhur dan keilmuan para leluhur, yaitu dengan berziarah ke makam-makam leluhur dan melakukan tawasul. Beliau dididik ayahnya sendiri bagaimana cara hidup madiri sebagai santri. Oleh ayahnya K.H. Abdul Wahab Hasbullah diajaknya shalat berjamaah dan sesekali dibangunkan malam untuk shalat tahajjud. Kemudian oleh ayahnya, K.H. Abdul Wahab Hasbullah dibimbing untuk menghafalkan Juz ‘Amma dan membaca Al Quran dengan tartil. Lalu K.H. Abdul Wahab Hasbullah dididik mengenal kitab-kitab kuning dari yang paling kecil untuk amaliyah sehari-hari. Misalnya: KitabSafinatunnaja, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahab, Muhadzdzab dan Al Majmu’. K.H. Abdul Wahab Hasbullah juga belajar Ilmu Tauhid, Tafsir, Ulumul Quran, Hadits, dan Ulumul Hadits.

Kemauan yang keras untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tampak semenjak masa kecil K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Beliau tekun dalam mencari ilmu dan cerdas memahami berbagai ilmu yang dipelajarinya. Selama enam tahun awal pendidikannya, ia dididik langsung oleh ayahnya baru ketika berusia 13 tahun K.H. Abdul Wahab Hasbullah merantau untuk menuntut ilmu. K.H. Abdul Wahab Hasbullah pergi ke satu pesantren ke pesantren yang lainnya.

Diantara pesantren yang pernah disinggahi K.H. Abdul Wahab Hasbullah adalah :
  • Pesantren Langitan Tuban.
  • Pesantren Mojosari, Nganjuk.
  • Pesantren Cempaka.
  • Pesantren Tawangsari, Sepanjang.
  • Pesantren Kademangan Bangkalan, Madura dibawah asuhan Kiai Kholil Bangkalan.
  • Pesantren Branggahan, Kediri.
  • Pesantren Tebu Ireng, Jombang dibawah asuhan K.H. Hasyim Asy’ari.
Khusus di Pesantren Tebu Ireng, K.H. Abdul Wahab Hasbullah cukup lama menjadi santri. Hal ini terbukti, kurang lebih selama 4 tahun. K.H. Abdul Wahab Hasbullah menjadi “lurah pondok” jabatan tersebut adalah sebuah jabatan tertinggi yang dapat dicicipi seorang santri dalam sebuah pesantren. K.H. Abdul Wahab Hasbullah sebagai bukti kepercayaan kiai dan pesantren tersebut (Mashyuri, 2008:83).

Menikah dan Membina Rumah Tangga : Pada tahun 1914 K.H. Abdul Wahab Hasbullah menikah dengan Kiai Musa yang bernama Maimunah. Sejak itu ia tinggal bersama mertua di kampung Kertopaten Surabaya. Dari perkawinan ini lahir seorang anak laki-laki pada tahun 1916 bernama Wahib yang kemudian dikenal sebagai Kiai Wahab Wahib. Namun, pernikahan dan membina rumah tangga ini tidak berlangsung lama. Istrinya meninggal sewaktu mereka berdua menjalankan ibadah haji pada tahun 1921. Setelah itu Kiai Wahab Hasbullah menikah lagi dengan perempuan bernama Alawiyah, putri Kiai Alwi. Namun pernikahan ini pun tidak berlangsung lama sebab setelah mendapatkan putra istrinya meninggal.

Kemudian K.H. Abdul Wahab Hasbullah menikah lagi, pernikahan ketiga dilakukan dengan Asnah, putri Kiai Sa’id, seorang pedagang dari Surabaya dan memperoleh empat orang anak, salah satunya bernama Kiai Nadjib yang selanjutnya mengasuh Pesantren Tambakberas. Namun lagi-lagi pernikahan ini tidak langgeng kembali karena Nyai Asnah meninggal dunia.

Kemudian Kiai Wahab menikah lagi untuk yang keempat kalinya dengan seorang janda bernama Fatimah, anak Haji Burhan. Dari pernikahan ini K.H. Abdul Wahab Hasbullah tidak mendapatkan keturunan. Namun, dari Fatimah ia memperoleh anak tiri yang salah satunya bernama K.H. A. Syaichu.

Dari sinilah banyak orang mencemooh perilaku Kiai Wahab. Tidak jarang, banyak orang yang menjulukinya sebagai “kiai tukang kawin” karena setelah itupun ia menikah kembali untuk yang kelima kalinya. Kali ini K.H. Abdul Wahab Hasbullah menikah dengan anak Kiai Abdul Madjid Bangil yang bernama Ashikhah. Pernikahan inipun tidak berlangsung lama karena saat menunaikan ibadah haji bersama Nyai Ashikhah meninggal dunia. Dari istri ini beliau dikaruniai empat orang anak.
Pernikahan K.H Abdul Wahab Hasbullah yang terakhir adalah dengan kakak perempuan Ashikhah yang bernama Sa’diyah. Dengan perempuan inilah pernikahan K. H. Abdul Wahab Hasbullah mencapai akhir hayat beliau. Dari Nyai Sa’diyah ini K.H. Abdul Wahab Hasbullah mendapatkan beberapa keturunan yaitu Mahfuzah, Hasbiyah, Mujidah, Muhammad Hasib dan Raqib (Masyhuri, 2008:84 dan Aceh, 1957:125-126).

Wafat : K.H. Abdul Wahab Hasbullah ketika menjabat Rais Aam Organisasi Nahdlatul Ulama sampai akhir hayatnya. Muktamar NU ke-25 di Surabaya adalah Muktamar terakhir yang diikutinya. Khutbah al-iftitah muktamar yang lazim dilakukan oleh Rais Aam kemudian diserahkan kepada K.H. Bisri Syansuri yang biasa membantunya dalam menjalankan tugasnya sebagai Rais Aam untuk membacakannya.
K.H. Abdul Wahab Hasbullah meninggalkan muktamar dalam keadaan sakit yang akut. Hampir lima tahun ia menderita sakit mata yang menyebabkan kesehatannya semakin menurun. Akhirnya, tepat empat hari setelah muktamar atau tepatnya (Rabu, 12 Dzulqa’idah 1391 H atau 29 Desember 1971) K.H. Abdul Wahab Hasbullah wafat di kediamannya Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak beras - Jombang (Masyhuri, 2008:107).

Perjuangan : K.H. Abdul Wahab Hasbullah dapat dikatakan lebih dikaitkan dengan persoalan pergerakan, organisasi. Langkah awal perjuangan yang ditempuh K.H. Abdul Wahab Hasbullah yaitu melalui jalur pendidikan. Ia mendirikan madrasah bernama “Nahdlatul Wathan”. Nama madrasah sengaja dipilih Nahdlatul Wathan yang berarti: “Bangkitnya Tanah Air”. Adalah bukti dari cita-cita murni K.H. Abdul Wahab Hasbullah untuk membebaskan bangsa dari belenggu Kolonial Belanda.

Menurut K.H. Muhammad Ghozi Wahid (cucu Kiai Wahab) dalam peristiwa 10 November, Mbah Kholil bersama kiai-kiai besar, seperti Kiai Bisri Syansuri, Syaikh Hasyim Asy’ari, K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan Mbah Abas Buntet Cirebon mengerahkan seluruh kekuatan gaibnya untuk melawan tentara sekutu. Hizib-hizib yang mereka miliki dikerahkan semua untuk menghadapi lawan yang bersenjata lengkap dan modern. Sebutir kerikil atau jagungpun ditangan kiai-kiai itu dapat difungsikan menjadi bom berdaya ledak besar.

Ketika Kiai Hasyim Asy’ari ditangkap Jepang sekitar bulan April-Mei 1942, K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan K.H. Wahid Hasyim bersama para kiai berulang kali melakukan dialog dengan Saiko Sikikan (panglima tertinggi tentara Jepang di Jawa) untuk memperjuangkan pembebasan Kiai Hasyim Asy’ari. Menurut catatan sejarah, penangkapan tersebut dilatar belakangi oleh adanya fatwa K.H. Hasyim Asy’ari yang mengharamkan para santrinya melakukan saikere. K.H. Hasyim Asy’ari mengaharamkan tindakan tersebut dan fatwa beliau disampaikan kepada Saikoo Sikikan.
Saikere yaitu kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia untuk membungkukkan badan sembilan puluh derajat kearah Tokyo untuk menghormat Tenno Heika, Raja Jepang
Setelah melampaui perjuangan yang berat dan penuh resiko, akhirnya terbebaslah Kiai Hasyim Asy’ari dari tahanan pemerintah militer Jepang setelah lebih dari empat bulan beliau dipenjara oleh Jepang. Akan tetapi, pekerjaan K.H. Abdul Wahab Hasbullah belum selesai hingga disini. Lalu pergilah K.H. Wahab Hasbullah ke Wonosobo untuk membebaskan 12 orang tokoh ulama NU melalui pengadilan Jepang.

Tidak kalah pentingnya memperhatikan langkah-langkah perjuangan lain yang ditempuh K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Sepertinya tersimpan beberapa sifat K.H. Abdul Wahab Hasbullah yang jarang dipunyai oleh orang lain. Beliau adalah tipe seorang yang pandai bergaul dan gampang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tetapi K.H. Abdul Wahab Hasbullah juga seorang ulama yang paling tangguh mempertahankan dan membela pendiriannya. K.H. Abdul Wahab Hasbullah diketahui sebagai pembela ulama pesantren dari serangan-serangan kaum modernis anti madzhab.
Sarekat Islam (SI) adalah pergerakan yang K.H. Abdul Wahab Hasbullah dirikan bersama rekan-rekannya ketika masih menuntut ilmu di Mekkah. Pergerakan ini bukan sekadar mengumpulkan cendekiawan dari kalangan Islam tanah air melainkan gerakan ini juga ingin memajukan kaum Islam yang rendah ekonominya dan rendah pengetahuannya.

K.H. Abdul Wahab Hasbullah juga tidak dapat membiarkan kaum modernis yang dilancarkan serangan-serangan kepada ulama bermadzhab. Oleh ebab itu pada tahun 1924, K.H. Abdul Wahab Hasbullah membuka kursus “Masail Diniyyah” (kursus khusus masalah-masalah keagamaan). Kursus tersebut guna menambah pengetahuan bagi ulama-ulama muda yang mempertahankan madzhab pesantren. Dengan demikian, K.H. Abdul Wahab Hasbullah telah membangun pertahanan cukup ampuh bagi menolak serangan-serangan kaum modernis.

Selanjutnya, pada saat pemimpin-pemimpin Islam mendapat undangan dari Raja Hijaz, K.H. Abdul Wahab Hasbullah lalu membentuk Komite Khilafat yang diberinama “Komite Hijaz” atas izin dari K.H. Hasyim Asy’ari. K.H. Wahab Hasbullah mendirikan “Komite Hijaz” sebagai bentuk respon atas proses “wahabisasi” di Arab yang memberi pengaruh pada persoalan kebebasan beribadah sesuai dengan kepercayaannya. Komite ini kemudian mengirim delegasi sendiri ke Makkah-Madinah. Komite Hijaz inilah yang kemudian melahirkan Jam’iyah Nahdlatul Ulama, sehingga kehadiran NU tidak dapat dilepaskan dari perjuangan K.H. Abdul Wahab Hasbullah.

Pemikiran : K.H. Abdul Wahab Hasbullah Jika disejajarkan dengan Gus Dur (Abdurrahman Wahid), maka Kiai Wahab Hasbullah memiliki banyak persamaan (didasarkan pada masanya masing-masing). Persamaan itu adalah keduanya sama-sama tokoh yang sangat kontraversial di kalangan ulama dan politisi. Abdurrahman Wahid dikenal sebagai ulama dan cendekiawan yang mempunyai sikap dan maneuver-manuver politik yang dilakukannya sering menimbulkan pertanyaan tentang integritas dan konsistensi idealisme didalam cita-cita perjuangannya. Kemudian begitu juga dengan K.H. Abdul Wahab Hasbullah.

Diantara beberapa hal yang menjadikan K.H. Abdul Wahab Hasbullah menjadi ulama sekaligus politisi dan cendekiawan yang kontraversial dikalangan umat Islam Indonesia adalah ketika meningginya konflik antara kaum modernis dan reformis dengan kaum tradisionalis. K.H. Abdul Wahab Hasbullah tampil sebagai “guardian” tradisionalisme dengan jalan membentuk Taswirul Afkar pada tahun 1918 yang kemudian melaksanakan perdebatan terhadap permasalahan yang diperdebatkan kaum tradisionalis dan modernis saat itu.

Bidang Pendidikan Menurut K.H. Abdul Wahab Hasbullah pendidikan tidak harus dilakukan di pesantren dan mendidik anak harus tepat pada situasi dan kondisi yang dibutuhkan masyarakat. Pendidikan umum bukan berarti pendidikan pesantren lalu dilupakan. Oleh karenanya selain ia melakukan pendidikan di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, juga melakukan pendidikan di luar pesantren yang ditujukan untuk kalangan umum dan terpelajar dengan mendirikan kelompok diskusi bernama Tashwirul Afkar.
Melalui Nahdlatun Wathan K.H. Abdul Wahab Hasbullah juga telah berhasil mendirikan beberapa sekolah di berbagai daerah, antara lain: 1) Sekolah/Madrasah Ahloel Eathan di Wonokromo. 2) Sekolah/Madrasah Far’oel Wathan di Gresik. 3) Sekolah/Madrasah Hidayatoel Wathan di Jombang, dan 4) Sekolah/Madrasah Khitaboel Wathan di Surabaya (Mashyuri, 2008:86-87).


Bidang Keagamaan Konsep K.H. Abdul Wahab Hasbullah tentang keagamaan terutama bagaimana peran Islam, lebih banyak berreferensi dari tradisi politik keagamaan Sunni dan pra pergerakan ahlus sunnah wal jama’ah. Pemikiran K.H. Abdul Wahab Hasbullah lebih terbuka dengan tidak keras atau fanatik pada suatu pendapat. Pragmatis demi mencari solusi kebenaran bersama dan kebutuhan mendesak dan penting serta kontekstual (moderatisme).

Pergerakan Progresivitas konsep pergerakan K.H. Abdul Wahab Hasbullah terlihat jelas ketika ia turut serta dalam membidani lahirnya organisasi kalangan Islam NU. Mengapa hal demikian disebut sebagai progresivitas pemikiran pergerakan dari Kiai Wahab Hasbullah?. Tidak lain karena organisasi pergerakan di Indonesia kala itu muncul dari kalangan terpelajar atau dari kota yang dibekali pendidikan notabene ciptaan Belanda. Pendidikan itu sangat menekankan rasionalitas modern dalam memandang persoalan kehidupan. Sementara kalangan Islam tradisional kebanyakan adalah kelompok masyarakat tradisional, kalangan petani, yang kebanyakan pola pandangan hidupnya masih sedikit terpengaruh pemikiran nasional modern, karena mereka mengandalkan bacaan kitab kuning-nya yang mereka pelajari di pesantren.

Demokrasi Diceritakan oleh Saifudin Zuhri dalam salah satu bukunya, Biografi K.H. Abdul Wahab Hasbullah disebutkan sebagai berikut: “Kami bertiga, Kiai Wahab, Pak Idham, dan Saifuddin Zuhri sama-sama duduk dalam dewan pertimbangan agung mewakili NU. Berbulan-bulan dewasa ini membicarakan “sosialisme Indonesia”, “Landreform”, “Pancasila” dan lain-lain. Ada dua aspek yang selalu diperhatikan oleh NU dalam pembahasan tersebut. Sosialisme Indonesia menurut NU haruslah sosialisme ala Indonesia dan bukanlah sosialisme ala komunisme, baik Moskow atau Peking. Sosialisme Indonesia tak lain dan tak bukan adalah dibentengi ideology Negara ala Pancasila dan UUD Negara yang menjamin setiap penduduk menjalankan keyakinan agamanya. Sementara itu, tentang landasan “landreform”, pada dasarnya NU dapat menyetujuinya selama gerakan ini tidak mengandung maksud melenyapkan hak milik pribadi dan Negara. Menurut ajaran Islam, tiap-tiap hak milik harus dilindungi dan dipertahankan, namun juga diwajibkan menegakkan keadilan.” (Zuhri, 1983:72-73).
Nilai dasar demokrasi adalah memanusiakan manusia dan mengaturnya agar pola hubungan antar manusia itu dapat saling menghormati perbedaan dan mampu bekerjasama sehingga menciptakan kesejahteraan bersama. (K.H. Abdul Wahab Hasbullah)

Warisan dan Peninggalan ketokohan K.H. Abdul Wahab Hasbullah bukanlah terletak pada buku karya ilmiahnya, karena memang boleh dikatakan K.H. Abdul Wahab Hasbullah tidak meninggalkan sebuah karangan apapun melainkan buah pikiran dan kemampuan ilmunya yang diuraikan dimana-mana dalam banyak kesempatan dan peristiwa. Mungkin bagi kalangan intelektual murni yang suka menganalisis dari teks ke teks saja hal ini sangat disayangkan. Setidaknya, K.H. Abdul Wahab Hasbullah menyempatkan diri untuk menuliskan buku panduan mengkaji politisi menurut konsep aswaja.

Namun, sebenarnya tidaklah benar seratus persen jika K.H. Abdul Wahab Hasbullah hanyalah seorang tokoh atau kiai politik saja. K.H. Abdul Wahab Hasbullah dikenal sebagai jawara silat dan ahli wirid. Konon K.H. Abdul Wahab Hasbullah menyebut ijazah (macam-macam hizib dan wirid ) kepada seluruh warga NU dan siapa saja yang memerlukan kekebalan diri.

K.H. Abdul Wahab Hasbullah menyatakan orang Islam bukan hanya berwibawa dan disegani karena ilmunya melainkan juga karena wiridnya. Salah satu peninggalan wirid K.H. Wahab Hasbullah yang terkenal dan bisa diamalkan terutama dikalangan Pesantren (buku Azis Mashyuri)  yaitu:
“ Maulaya shalli wa sallim da’iman abada ‘alal habibika khairil khalqi kullihimi Huwal habibul ladzi turja syafa’atuhu Likulli hauli minal ahwali muktahimi ”.

Demikian uraian penjelasan saya tentang Kisah dan Perjuangan K.H. Abdul Wahab Hasbullah Dalam Merebut Kemerdekaan Indonesia dari Kekuasaan Penjajah. Semoga bermanfaat.
Pada tahun 2014 K.H. Abdul Wahab Hasbullah mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden. (Wikipedia. org)
DMCA.com Protection Status

Posting Komentar

0 Komentar