Kisah Perjuangan Cut Nyak Dhien (Ratu Perang Dari Aceh) - Blog Pak Yogi

Kisah Perjuangan Cut Nyak Dhien (Ratu Perang Dari Aceh)

Kisah Perjuangan Cut Nyak Dhien (Ratu Perang Dari Aceh) - Pahlawan yang berasal dari porvinsi ujung sebelah barat indonesia ini adalah Cut Nyak Dien, mengisahkan bagaimana kegigihan beliau menghadapi perang dan memimpin para rakyat indonesia perang melawan belanda.

Cut Nyak Dhien dilahirkan tahun 1848 dari keluarga terkemuka di Lampadang, Kesultanan Aceh. Ayahnya Teuku Nanta Seutia adalah seorang ulubalang yang memimpin beberapa kampung. Dia di didik dengan ajaran islam yang sangat kuar dan kemudia dinikahkan dengan Teuku Ibrahim Lamnga saat berusia 12 tahun.
Seorang penulis dari belanda bernama MH Skelely Lulofs menceritakan biografi Cut Nyak Dien dengan Novel berjudul Kisah Perang Ratu Aceh.
Masyarakat aceh juga menyebutnya Prang Sibi melawan kaphe ulanda atau perang sabil yang suci melawan kafir belanda.
Provinsi aceh sendiri adalah salah satu daerah terakhir yang bisa ditaklukan belanda, kesultanan aceh pada saat itu dikenal kuat dan mereka juga memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan amerika, italia, dan juga turki. Belanda menjajah kesultaan aceh dimulai pada tahun 1873 dengan pengiriman kapal perang mereka.

Tepatnya Perang ini terjadi pada 1873-1904. Pada perang ini sangat memakan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak, dari pihak rakyat aceh sebanyak 70.000 rakyat gugur dan dari prajurit belanda sebanyak 35.000 yang tewas. Perlawanan yang banyak ini berakhir pada tahun 1942 setelah belanda berhasil dipukul mundur oleh jepang.

https://www.munawirsuprayogi.com/2018/08/kisah-perjuangan-cut-nyak-dhien.html

Setelah melihat kilas balik Cut Nyak Dhien diatas, ada beberapa kisah beliau yang berkenan sampai sekarang adalah sebagai berikut :

1. Cut Nyak Dhien murka melihat masjid dibakar belanda

Ketika pecah Perang Aceh pertama pecah, tanggal 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen. Pasukan di bawah Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler langsung menyerang Masjid Raya Baiturrahman.

Kohler kemudian membakarnya. Menurutnya, masjid adalah markas para pejuang Aceh yang harus dimusnahkan.

Cut Nyak Dhien sangat marah dengan perbuatan Belanda itu. Dia berteriak menghujat pembakaran Masjid Baiturahman.
Wahai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikan sendiri dengan matamu! Masjid kita dibakarnya! Mereka menentang Allah Subhanahuwataala! Tempatmu beribadah dibinasakannya! Nama Allah dicemarkannya! Camkanlah itu! Janganlah kita melupakan budi si kafir yang serupa itu! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa si kafir yang serupa itu? Masih adakah orang Aceh yang suka menjadi budak kafir Belanda?.
Kemarahan Cut Nyak Dhien baru reda saat kemudian suaminya kembali dari medan perang dan mengabarkan Jenderal Kohler tewas ditembak pejuang Aceh di halaman Masjid Baiturahman.

2. Cut Nyak Dhien mengatakan "syahid tak usah ditangisi"

Meninggalnya Teuku Umar pada tahun 1899 saat memimpin komando perang aceh yang disergap oleh pasukan belanda dan ditembak mati menyisakan duka yang mendalam bagi cut nyak dhien, akan tetapi beliau tidak menangis dan berkata.
Kita perempuan seharusnya tidak menangis di hadapan mereka yang telah syahid.
Cut Nyak Dhien berjanji untuk meneruskan perjuangan sampai titik darah penghabisan. Meneruskan aksi kedua suaminya yang terbunuh dalam Prang Sibi.
Selama aku masih hidup kita masih memiliki kekuatan, perang geriliya ini akan kita teruskan! Demi Allah! Umar memang telah Syahid! Marilah kita meneruskan pekerjaannya! Untuk Agama! Untuk kemerdekaan bangsa kita! Untuk Aceh! Allahu Akbar!.

3. Cut Nyak Dhien tidak mau diserahkan ke belanda

Satu persatu pejuang aceh telah gugur sampai titik darah penghabisa, saat ini cut nyak dhien dengan keadaan penyakitnya hampir buta tidak mau menyerahkan diri ke belanda, meskipun akan dijanjikan diperlakukan dengan terhomat tetapi beliau tetap tidak ingin menyerahkan diri.

Dia bilang lebih baik dadanya ditusuk rencong hingga tewas daripada harus menyerah pada kafir Belanda.

Setelah ditangkap, Cut Nyak Dhien dibawa ke Banda Aceh dan dirawat di situ. Penyakitnya seperti rabun dan encok berangsur-angsur sembuh.

Cut Nyak Dhien akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, karena ketakutan Belanda bahwa kehadirannya akan menciptakan semangat perlawanan.
Di tempat pengasingannya Cut Nyak Dhien dipanggil Ibu Perdu, karena keahliannya dalam ilmu agama. 
Pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien meninggal karena usianya yang sudah tua.
Dari tulisan sejarah singkat Cut Nyak Dhien di atas, kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran berharganya. Semoga artikel ini bermanfaat. Terimakasih.

DMCA.com Protection Status

Posting Komentar

0 Komentar