Mengenal 6 Aliran Filsafat Mengenai Ilmu Pengetahuan dalam Dunia Pendidikan - Blog Pak Yogi

Mengenal 6 Aliran Filsafat Mengenai Ilmu Pengetahuan dalam Dunia Pendidikan

Sebuah pandangan lahir karena adanya sebuah pemikiran dan pemikiran lahir karena sebuah pengalaman disekitar, pengalaman disekitar tersebut didapat melalui berbagi aspek sesuai kadar kemampuan manusia itu sendiri. Lalu sesuai kadar kemampuan manusia diemplementasikanya melalui sebuah pendapat (pandangan).

Selanjutnya pandangan-pandangan atau aliran dalam filsafat sifatnya bebas, namun dalam mengemukakannya harus didasari dengan kebijaksanaan. Ya, kebijaksanaan sehingga tidak membuat semakin merosotnya ilmu pengetahuan atas perbedaan pendapat, tetapi dengan perbedaan pendapat tersebut harus menjadikan ilmu pengetahuan semakin maju.

[Baca Juga] : Pemikiran 10 Ahli Filsafat Yunani Kuno Tentang Kejadian Alam

Didalam artikel ini kita akan mengulas 6 Aliran Filsafat Mengenai Ilmu Pengetahuan dalam Dunia Pendidikan. Sangat berguna sekali jika kita tahu dan faham mengenai sebuah pandangan-pandangan dari pendahulu kita yaitu para filsuf terhadap ilmu pengetahuan. Yang penulis harap setelah kita membaca artikel ini, kita lebih profesional dalam mengembangkan, mempraktikkan, dan menyampaikan sebuah ilmu pengetahuan didalam dunia pendidikan.

https://www.munawirsuprayogi.com/2018/11/mengenal-6-aliran-filsafat-mengenai-ilmu-pengetahuan-dalam-dunia-pendidikan.html

Mengenal 6 Aliran Filsafat Mengenai Ilmu Pengetahuan dalam Dunia Pendidikan

1. Idealisme

Pemikiran mengenai aliran filsafat idealis telah dikemukakan oleh Plato sekitar 2400 tahun yang lalu. Plato mengemukakan bahwa realitas yang fundamental adalah ide (idea : Inggris), sedangkan relaitas yang tampak oleh indra manusia adalah bayangan dari ide itu sendiri.

Kesimpulan dari aliran filsafat ini adalah bahwa semua yang kita tahu mengenai disekeliling kita (alam empiris beserta fenomenanya) timbul karena sebuah ide atau pandangan dari diri kita itu sendiri.

Contoh ; ketika kita melihat sebuah apel yang bulat dan berwarna merah, berarti bulat dan merah yang berada dalam apel adalah sebuah pernyataan yang timbul dari sebuah pemikiran kita sendiri.

Selanjutnya, mengenai apa yang kita tahu disekeliling kita (alam) aliran idealis ada yang sifatnya spiritual. Mereka berpendapat bahwa hukum-hukum alam sudah sesuai dengan kebutuhan watak intelektual dan moral manusia. Manusia merupakan bagian dari proses alam, akan tetapi manusia mempunyai akal, jiwa, budi, dan nurani.

Mereka yang menganut aliran idealis cenderung menghormati kebudayaan dan tradisi, karena mereka beranggapan bahwa nilai-nilai kehidupan memiliki tingkat yang lebih tinggi daripada sekedar nilai kelompok atau individu.


2. Humanisme

Hingga zaman pertengahan abad ke-4, pendidikan di Yunani dan Romawi sudah mempunyai tujuan jelas yaitu membentuk manusia menjadi warga Negara yang baik dan berguna bagi bangsa dan Negara.

Humanisme mempunyai dua arah, yaitu humanisme indivuidu yang mengutamakan kemerdekaan berfikir, mengemukakan pendapat, dan berbagai aktivitas yang kreatif. Humanisme sosial yang mengutamakan pendidikan bagi masyarakat keseluruhan untuk kesejahteraan sosial dan untuk memperbaiki hubungan antar manusia.



3. Rasionalisme

Pemikiran mengenai aliran filsafat rasionalis telah dikemukakan oleh Rene Descartes pada tahun 1596-1650 yang sekaligus dianggap sebagai bapak filsafat modern. Rene Descartes berpendapat dengan semboyannya “Saya berfikir, jadi saya ada” “Cogito ergo sum”. Tidak hanya Rene Descartes, tokoh-tokoh lainpun yang menganut aliran ini diantaranya ; John Locke tahun 1632-1704, Jean Jecques Rousseau tahun 1712-1704, dan Johann Bernhard Basedow tahun 1724-1790.

Jhon Locke berpendapat bahwa setiap insan diciptakan sama halnya kertas kosong. Adapun yang mengisi watak dan perilaku terhadap insan tersebut adalah lingkungan sekitar (Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat).

Selanjutnya, Jean Jecques Rousseau berpendapat bahwa seorang anak harus dididik sesuai kemampuan dan kesiapannya dalam menerima pendidikan. Jadi, dalam mendidik anak harus sesuai dengan umur anak tersebut dan bukan memberi pendidikan sesuai kadar umur orang dewasa.

Dilanjutkan kembali mengenai ilmu pengetahuan dalam pandangan rasionalis, pada tahun 1774 Johann Bernhard Basedow mendirikan sekolahan yang diberi nama Philantropirum dengan mata pelajarannya bahasa Perancis, bahasa Latin, bahasa Yunani, Ilmu pasti, dan Ilmu kealaman. Johann Bernhard Basedow berpendapat bahwa pendidikan harus membentuk kebijaksanaan, kesusilaan, dan kebahagiaan.

Kesimpulan aliran Rasionalis bahwa semua manusia terlahir sama tanpa terbekali sifat dan watak dari pendahulunya. Adapun yang membuat manusia itu berkarakter adalah sebuah pemberian pendidikan dari lingkungan sekitar (Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat).


4. Empirisme

Sekitar tahun 1561-1626 Francis Bacon membuat sebuah dasar-dasar pandangan empiris dan menyarankan agar semua penemuan-penemuan mengenai ilmu pengetahuan menggunakan metode induksi. Menurut Francis Bacon ilmu pengetahuan akan berkembang jika melalui pengamatan dalam eksperimen yang disertai penyusunan fakta-fakta sesuai prosedur sebagai hasil eksperimen.

Empira adalah asal dari kata Empirisme. Empira berarti kepercayaan terhadap pengalaman. Pengalaman didapat dari dunia fakta, lalu pengalaman tersebut diolah oleh akal.

Aliran ini berpandangan bahwa setiap ilmu pengetahuan harus mampu dibuktikan melalui pengalaman masing-masing individu manusia. Pandangan yang tidak bisa dibuktikan dengan kehidupan sehari-hari adalah omong kosong (tidak berarti).



5. Kritisisme

Pada abad ke-18 Emmanual Kant telah menggabungkan sebuah pandangan Rasionalisme dan Empirisme. Menurut Emmanual Kant empirisme telah menghasilkan keputusan-keputusan yang bersifat sintetis dan tidak bersifat mutlak, sedangkan rasionalisme memberikan keputusan yang bersifat analitis. Karena menurut Emmanual Kant berfikir adalah proses penyusunan keputusan yang terdiri dari subjek dan predikat, maka perlu menjembatani antara pandangan Rasionalis dengan pandangan Empiris sehingga muncullah sebuah pandangan Kritisisme.



6. Kontruktivisme

Pandangan ini dikemukakan oleh Giambattista Vico pada tahun 1710. Giambattista Vico berpendapat bahwa pengetahuan seseorang merupakan hasil kontruksi individu yang diinteraksikan dengan obyek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan.

Dewasa ini pandangan kontruktiv dianggap merupakan pandangan baru dalam dunia pendidikan, meskipun pandangan ini merupakan pandangan yang sudah ada dari dahulu. Jean Piaget diantaranya, mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif, baik melalui indra maupun melalui komunikasi. Pengetahuan seseorang dibangun secara aktif oleh individu itu sendiri.

Dalam pengembangan kontruktivisme dikenal kontruktivisme kognitif, sosial, dan kontruktivisme kritis. Masih mengenai Jean Piaget, kontruktivisme kognitif mengenai ilmu pengetahuan, bahwa seorang anak dalam mengembangkan pengetahuannya bisa melalui jalur membaca, mendengar, bertanya, menelusuri, dan melakukan eksperimen terhadap lingkungan sekitar. Sedangkan fungsi guru di sekolah adalah sebagai fasilisator yang membuat situasi menjadi kondusif supaya hasil pembelajaran anak optimal.

Mungkin cukup disini pembahasan penulis mengenai Mengenal 6 Aliran Filsafat Mengenai Ilmu Pengetahuan dalam Dunia Pendidikan. Semoga bermanfaat.
DMCA.com Protection Status

Posting Komentar

0 Komentar